Di Negeri Ini Hukum Seperti Penis


Mungkin sudah menjadi adat kita, menjadikan besar apa yang kecil (nggak percaya? tanya mak erot) dan mengecilkan apa yang besar (nggak percaya juga? tanya tukang sedot lemak). Ketika Miyabi mau datang dan bermain di film Indonesia, ributlah negeri ini dibuatnya hingga membangunkan anak – anak kita yang sedang tidur. Pun ketika film 2012 rilis dan diputar di bioskop – bioskop di sini, kita kembali meributkan dan menyibukkan diri mengurus masalah yang seharusnya tidak menguras energi kita.

Sayang seribu sayang, adat jelek inipun telah lama pula mewarnai penegakan hukum di negeri ini. Kasus pencurian hanya tiga biji kakao, hanya sebiji semangka, hanya setandan pisang, hanya sekarung kapuk, hanya ngecharge handphone di fasilitas umum, sekedar curhat di komentar pembaca dan di milis yang begitu cepat ditangani dan dimeja hijaukan adalah contoh betapa sigap dan kuatnya tangan – tangan hukum terhadap orang – orang kecil tatkala mereka berhadapan dengan orang – orang berkantong ajaib. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, tangan – tangan hukum malah asyik bergandeng mesra dengan si besar dan berembug mencari cara agar salah tetap ditibankan pada si kecil.

Seperti penis, lihatlah jika yang berperkara orang – orang yang bertelanjang yang tak mengerti hukum, tak mampu membayar pengacara, tak punya keberanian berbicara, tak punya apa – apa untuk menyuap, hukum langsung tegak. Bahkan tak jarang diantara mereka ada yang diperkosa. Meski mereka tahu ada jalan yang lebih arif dan bijaksana untuk menyelesaikannya. Tapi tengoklah mereka – mereka yang berpakaian lengkap, berjas, berdasi, sekalipun skandal mereka sangat besar, hukum mendadak impoten. Malahan mereka inilah yang diperlakukan dengan “arif dan bijaksana”. Arif terhadap kantongnya dan bijaksana pada alibinya.

Tapi syukurlah akhir – akhir ini rakyat sadar bahwa hukum membutuhkan viagra ketika harus berhadapan dengan skandal – skandal besar. Desakan dan tekanan dari seluruh rakyat yang terus dihembuskan dalam beberapa kasus besar mampu membuat si penis tetap tegak. Tegak dengan terpaksa.

Akhirnya, jika di sana hukum dilambangkan sebagai seorang yang ditutup matanya sambil memegang timbangan. Di sini bolehlah kita lambangkan hukum sebagai orang bermata juling sambil memegang kalkulator.

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 9 Desember 2009, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. begituLah citra hukum di Indonesia…

    Harapan saya semoga kaum Muda Intelektual mampu memperbaikinya dimasa yg akan datang..

    thanks daH mampir ke blog q..

  2. sekali lagi anekdot cerdas,. saya mau bikin artikel beginian tapi nggak berani,. jadi cuma dengerin lagu-lagunya om Iwan Fals aja yang juga ‘mencubit’, hehe!,

  3. salam hanghat gan semoga artikel nya menjadi bermanfaat terimakasih bayak gan slam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: