Hadapi Hinaan Dengan Indah

“Waspadalah terhadap tebasan pedang pujian dan tersenyumlah saat dilecut dengan cambuk hinaan”
Vpatology

Jika ada yang menyangka bahwa hinaan atau caci maki bisa menghancurkan orang lain maka dia keliru. Dalam banyak kenyataan di kehidupan, orang – orang yang berhasil meraih kesuksesan justru adalah orang – orang yang banyak diterpa hinaan, caci maki atau direndahkan. Mereka adalah orang – orang yang piawai mengolah hinaan menjadi bahan bakar murah nan ramah lingkungan namun berdaya bakar tinggi untuk mesin sukses mereka. Dengannya mereka mampu mencapai bintang lebih gegas dari malam. Bagi para penghina, hal itu akan merusak mesin bahagianya karena mengkonsumsi bahan bakar yang tak diolah dengan iman, dari bahan baku yang tak dipilah dan dipilih dengan akal dan tanpa disaring dengan rasa. Jika tak segera sadar, dia akan merana ‘menikmati’ krida kata dan lisannya sendiri. Sesungguhnya hinaan dan caci maki bisa menjadi cambuk bagi si penerima dan bisa menjadi bumerang bagi si pengucap.

Berbilang ratusan tahun silam, sebuah sikap cerdas nan indah ditarikhkan dan ditorehkan seorang Muhammad saw dalam menanggapi cacian atau tepatnya sumpah separah penuh kebencian dari serombongan kaum Yahudi yang berpapasan dengan beliau di tengah jalan. “Celaka engkau wahai Muhammad” demikian sapaan seram mereka pada Muhammad saw yang sedang berjalan dengan sang kinasih, Aisyah. Tapi Muhammad saw membalasnya dengan sapaan mesra “Kalian juga”. Indah, mantap, singkat dan telak. Tidak terprovokasi. Tidak terjebak dan berjibaku dengan lelaku bodoh para durjana. Disaat – saat seperti itulah akan tampak ditataran mana seseorang berpijak. Di lembah mana dia bernaung. Di singgasana mana dia bertahta.

Hinaan, caci maki, bersumber dari jiwa yang sakit dan hati yang sempit. Dengki kronis, sombong akut dan alergi takdir yang menggerogoti iman, mempecundangi akal dan memupus rasa. Tak ada lagi awak yang mengawal dan mengawas laku diri. Seandainya orang seperti ini diladeni maka mereka berada di rumah sakit yang sama, dokter yang sama dan obat yang sama pula.

Sedikit ingin menyinggung soal pujian. Bahwa puji – pujian atau sanjungan, lebih sering menjadi mesin pembunuh ketika dihadapi dengan hati yang bangga. Ia akan melenakan dalam nyanyian nina bobo yang syahdu. Melahirkan kesombongan dan superioritas. Jadi tidak selamanya yang baik berdampak baik begitu pula sebaliknya. Tergantung cara kita menghadapinya.

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 23 Desember 2009, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. semua bergantung pada pribadi pengguna dan korbannya,. bagaimana cara melontarkan sanjungan yang baik serta menerima dengan bijaksana sebagai booster semangat, dan bagaimana menorehkan kritik sesuai kenyataan sebagai penanda kesalahan, sehingga semua orang bahu-membahu untuk berkembang membangun hari esok lebih baik dari sekarang,. Hablum minannas,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: