Ketika Beo Tak Lagi Bicara (Asal Muasal Beo Membeo)

Konon dulu burung beo itu bisa berbicara layaknya manusia. Mereka bukan peniru tapi benar – benar para penutur. Karena sebuah rekayasa busuk akhirnya beopun tak ingin lagi bertutur. Bagaimana kejadiannya? Mari kita ikuti bersama – sama cerita berikut ini :

Pada jaman dahulu kala ada seorang pengusaha kaya raya bernama Pak Goban. Kekayaannya meliputi wilayah darat, laut dan udara. Apa saja dia punya dan apa saja yang diinginkannya selalu terwujud. Beliau menguasai ranah bisnis dan politik di kerajaan Ongol – ongol. Semua itu karena beliau punya segudang uang yang bisa membeli apa saja bahkan harga diri.

Suatu hari Pak Goban berjalan – jalan di pasar, beliau melihat seorang pedagang burung yang sedang dikerumuni banyak orang. Penasaran, beliaupun segera menghampiri dan beliau seketika terkesima menyaksikan seekor burung yang begitu fasih berbicara dalam bahasa manusia.
“Dia benar – benar bisa ngomong pak?” tanya Pak Goban pada penjual burung.
“Iya tuan, ini asli bukan tipuan.”
“Namanya burung apa pak?”
“Burung Beo tuan.”
“Mau dijual berapa?”
“1 M tuan.”
“Hmm…murah banget, kalau begitu aku beli deh.”
“Siiip…”
Pak Goban sangat senang mendapatkan burung beo tersebut dan sebelum pergi dia berpesan pada bapak penjual burung, “Pak, nanti kalau dapat burung beo lagi tolong kontak saya ya?”
“Ma’af tuan setelah ini saya tidak menjual burung lagi,” jawab penjual burung sambil tersenyum malu.
“Lho kenapa?”
“Saya mau ke Macao tuan.”
“Ngapain ke sana?”
“Kasino tuan.”
“Lho bukannya beliau sudah wafat?”
“Main kasino maksudnya tuan.”
“Oooo…ya udah…makasih ya pak.”
“Sama – sama tuan.”

Hampir setiap hari Pak Goban bercengkrama dengan burung beo peliharaannya. Ada saja yang mereka bicarakan, mulai dari hal yang remeh temeh sampai hal yang berat sarat. Suatu saat ketika mereka sedang asyik ngobrol datanglah seorang pegawai perpajakan kerajaan yang memang telah diundang Pak Goban.
“Selamat siang Pak.”
“Eee… Pak Satur, selamat siang. Wah cepat sekali datangnya, nggak sibuk?”
“Demi Pak Gaban saya pasti datang sekalipun sibuk, bisa diatur.”
“Goban.”
“Oh ma’af Pak salah sebut tapi bisa diaturlah.”
Keduanya tertawa, tampak sangat akrab dan beo yang sedari tadi diam, memperhatikan tingkah keduanya.
“Iya nggak apa – apa Pak Satur. Oya silakan duduk Pak.”
“Terima kasih Pak, bisa diatur.”
“Mau minum apa Pak Satur?”
“Apa saja boleh, bisa diatur Pak.”
Pak Goban memanggil pembantu dan memerintahkan untuk membuatkan mereka minuman.
“Ok Pak Satur…berapa uang yang harus saya bayar agar perusahaan saya terbebas dari tunggakan pajak?” tanya Pak Goban langsung ke topik pembicaraan.
“Seperti biasanyalah Pak Goban. Untuk saya sekian, untuk bos saya sekian, untuk hakim dan jaksa sekian. Pokoknya bisa diatur.” rinci Pak Satur tak jelas. Percakapan mereka terhenti saat pembantu masuk membawa minuman.
“Silakan diminum Pak Satur.”
“Terima kasih Pak. Bisa diatur.”
Setelah Pak Satur menelan tegukan terakhir, Pak Goban kembali bertanya melanjutkan percakapan mereka tadi.
“Jadi jumlahnya berapa?”
“Jumlah apa Pak?”
“Ya uang yang harus saya bayar ke Pak Satur.”
“Owhh…sekian juta rupiah Pak, bisa diatur.”
“Pak Satuur…?!!” Pak Goban terlihat jengkel dengan sikap Pak Satur yang berbelit – belit.
“I..iya Pak, totalnya 1 M, hehe…hehe…, bisa diatur.”
“Gitu dong Pak Satur, to the point aja,” tukas Pak Goban sambil memanggil asisten pribadinya yang bernama Boni. ” Bon, ambilkan uang 1 milyar di bawah kasur di kamar saya. Cepat ya.”
“Iya Pak.”
Sejurus kemudian sang asisten pribadi tampak tertatih – tatih memanggul kasur setebal 30 cm dipundaknya.
“Boniii…ngapain kamu bawa – bawa kasur? Tadikan saya suruh kamu mengambil uang di bawah kasur bukannya membawa kasur,” hardik Pak Goban yang tampak sangat dongkol.
“Ma’..ma’af Pak, nggak sengaja.” Boni berlari ke kamar sementara Pak Goban hanya bisa geleng – geleng kepala. Dan tidak lama kemudian Boni sudah kembali dengan sekarung uang.
“Silakan dihitung Pak Satur.”
Pak Satur cuma melihat dan membaui uang tersebut.
“Hmm…tampaknya kurang satu lembar nih Pak,” Pak Satur melapor.
“Bagaimana Pak Satur tahu? Tadi saya lihat Bapak cuma melihat dan membaui saja tanpa menghitungnya.”
Pak Satur tersenyum penuh arti, “Ah Pak Goban seperti nggak kenal saya saja. Saya kan udah bertahun – tahun makan uang.”
“Boni..,” Pak Goban menatap Boni. Wajah Boni seketika pucat pasi dan tampak gemetaran.
“Ma’..ma’af Pak nggak sengaja. Tadi waktu mengambil uang di bawah kasur tiba – tiba saputangan saya jatuh dan begitu saya ambil eh nggak taunya ada selembar uang yang nempel.”
“Jangan banyak alasan, cepat kembalikan.”
“Ba..baik Pak.”
Setelah semua urusan selesai, Pak Saturpun pamit pulang. Tapi baru saja dia keluar dari rumah Pak Goban tiba – tiba dia kembali lagi menemui Pak Goban.
“Pak Goban, tadi saya sudah bilang bisa diatur apa belum?”
Sambil menarik napas menahan amarah Pak Goban cuma bilang, “Ratusan.”
“Makasih Pak, bisa diatur kok, hehe…,” tanpa rasa bersalah sedikitpun Pak Satur ngeloyor pergi.

Tak ada seorangpun yang sadar kalau burung beo yang sedari awal diam telah merekam semua kejadian tersebut di dalam ingatannya. Sebagai burung yang perduli pada nilai – nilai moral yang tinggi burung beopun bertekad akan mengungkap perkara suap ini di muka umum.

Seperti biasanya dipagi hari saat sang surya beranjak naik, Pak Goban menggantung sangkar beo di halaman. Ketika orang – orang lewat di depan rumah Pak Goban, burung beopun bernyanyi, “Pak Goban menyuap petugas pajak biar dia nggak bayar pajak perusahaannya!!!” Nyanyian tersebut diulang berkali – kali sehingga menarik perhatian orang termasuk musuh bisnis Pak Goban yang langsung melaporkan perkara tersebut ke pihak yang berwenang.

Pak Goban kaget ketika tiba – tiba beberapa orang polisi datang menjemputnya untuk ditahan di sel polisi atas tuduhan penyuapan. Beliau benar – benar tidak menyangka beo kesayangannya justru menjadi whistle blower yang menggunting dalam lipatan, menohok kawan seiring. Besok beliau akan dihadapkan di persidangan sebagai pesakitan melawan beo kesayangannya yang menjadi saksi kunci. Pak Goban berpikir keras bagaimana agar terbebas dari segala tuduhan. Dan sebagai orang yang terbiasa berpikir dan berbuat licik, solusi yang dicaripun tak jauh – jauh dari kelicikan.

Beberapa teman Pak Goban dari kalangan politikus yang datang menjenguk, meminta kepada polisi agar Pak Goban dijadikan tahanan rumah saja. Karena mereka bersedia menjadi jaminan akhirnya Pak Gobanpun dibebaskan dari sel dan boleh pulang ke rumahnya. Bukan main senangnya Pak Goban karena dia akan bertemu lagi dengan si burung beo dan bisa melaksanakan ide liciknya untuk menyingkirkan burung beo yang lancang mempergunjingkan kejahatannya.

Malam tiba. Semua lampu di rumah Pak Goban sudah dimatikan. Dengan membawa sebuah panci yang sangat besar Pak Goban mengendap – endap mendekati sangkar beo. Hati – hati dimasukkannya sangkar beo ke dalam panci besar lalu ditutup rapat. Dipukul – pukulnya panci tersebut kemudian diguyur dengan air seember. Perbuatan itu Pak Goban lakukan berkali kali dan baru berhenti setelah hari menjelang pagi.

Hari ini sidang dengan terdakwa Pak Goban telah dimulai dan saat ini persidangan tinggal mendengarkan kesaksian dari beo. Dua saksi sebelumnya yaitu Pak Satur dan Boni sama – sama meringankan terdakwa dan menganggap tuduhan beo hanya mengada – ada atau fitnah belaka.
“Siapa nama anda?” tanya hakim ketua.
“Beo Yang Mulia.”
“Lengkapnya?”
“Beo bin Beo Yang Mulia.”
“Dari mana anda berasal?”
“Saya dari negeri beo Yang Mulia.”
“Di mana itu?”
“Rahasia Yang Mulia.”
“Kenapa rahasia?”
“Karena rahasia Yang Mulia.”
“Ya saya tanya kenapa rahasia?”
“Ya karena rahasia Yang Mulia.”
“Baiklah, sudah berapa lama anda bisa berbicara seperti manusia?”
“Ma’af Yang Mulia saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut sebab sejak pertama kali bertemu dengan manusia muncul pertanyaan di kepala saya, sejak kapan makhluk ini bisa berbicara seperti kami?”
Hakim ketua hanya tersenyum lalu melanjutkan.
“Sudah berapa lama anda hidup bersama manusia?”
“Satu tahun tiga bulan sepuluh hari tiga jam limapuluh sembilan menit Yang Mulia.”
“Sejak kapan anda tinggal bersama Pak Goban?”
“Sejak 3 bulan lalu Yang Mulia.”
“Bagaimana perlakuan Pak Goban kepada anda?”
“Sangat baik Yang Mulia. Saya makan dengan makanan yang dia makan, minum dengan minuman yang dia minum kecuali jamu karena saya nggak tahan baunya. Sangkar saya dibuat dari emas bertatahkan intan dan setiap hari Jum’at saya dimandikan dengan air kambing tujuh rupa.”
“Apa Pak Goban pernah memarahi atau menyakiti anda?”
“Tidak pernah Yang Mulia.”
“Ceritakan kepada kami bagaimana kejadian suap itu.”
“Baik Yang Mulia.”
Dengan tenangnya burung beo menceritakan apa yang dia saksikan tanpa mengurangi atau menambahi sedikitpun.
“Demikian Yang Mulia,” tutup beo.
“Anda yakin dengan semua yang anda ceritakan?”
“Haqqul yakin Yang Mulia.”
“Hmm…bagaimana Pak Goban, anda punya tanggapan terhadap pernyataan burung beo?”
“Iya Yang Mulia. Begini Yang Mulia, burung beo ini tidak bisa dipercaya. Dia sudah seringkali berbohong dan mengada – ada Yang Mulia.”
“Anda punya bukti dengan tuduhan anda Pak Goban?”
“Punya Yang Mulia. Silakan Yang Mulia tanyakan kepada beo tentang kondisi cuaca semalam.”
“Beo.”
“Saya Yang Mulia.”
“Coba ceritakan kepada kami seperti apa cuaca di kota kita semalam?”
“Sangat dingin dan gelap. Sepanjang malam petir dan guntur bersahut – sahutan. Hujanpun turun dengan sangat derasnya. Demikian Yang Mulia.”
“Anda yakin beo?”
“Sangat yakin Yang Mulia.”
“Beo.”
“Saya Yang Mulia.”
“Ternyata anda memang tukang bohong.”
Burung beo kaget disebut pembohong, “Saya mengatakan yang sebenarnya Yang Mulia. Sumpah suwer saya tidak berbohong.”
“Anda kemana saja semalam? Cuaca yang begitu cerah anda bilang gelap dan hujan?”
“Tapi Yang Mulia, semalam cuaca memang sangat buruk.”
“Ah sudahlah persidangan ini sudah tidak percaya dengan kesaksian anda.”
Burung beo benar – benar bingung bagaimana mungkin hakim mengatakan cuaca semalam cerah padahal yang dia rasakan adalah kebalikannya. Ada apa gerangan? Tapi sayang tak ada yang bisa menjawab (kecuali para pembaca).

Akhirnya Pak Gobanpun diputus bebas sementara burung beo atas permintaan Pak Goban dia hanya dikembalikan ke hutan. Dalam perjalanan pulang ke negeri beo, dia bertemu burung beo lainnya yang mencoba peruntungan di negeri manusia. Di kesempatan itu dia ceritakan pengalaman buruknya ketika masih bersama manusia dan berpesan agar si beo tidak berbicara dengan manusia karena bisa membahayakan keselamatan mereka sendiri. Cerita ini menyebar luas dikalangan beo melalui twitteran para beo perantau dan sejak saat itulah semua burung beo yang hidup bersama manusia hanya menirukan kata – kata yang diucapkan manusia saja.

Sampai sekarang negeri beo tersebut masih ada di mana mereka semua bebas bertutur. Anda mau ke negeri beo dan mendengar apa yang mereka tuturkan? Tengoklah ke dalam sanubarimu kawan.

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 10 Februari 2011, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 54 Komentar.

  1. master Vpat di mohon di koreksi postingan saya lagi, .. ..

    Terbaru, dan mungkin gak bermuttu, tp mohom saran dan kritiknya. .. ..
    firushacker.wordpress.com/2011/02/19/19-foto-berbasis-mif-untuk-splash-screen-dan-shutdown-di-e63-320x240

  2. kapan ya beonya mau bicara lagi?biar kebongkar semuanya!!!

  3. Asslmlkm,,,
    Apa kabar Mas Vpat ?
    Kali ini aku ga ingin komentari ttg artikel Mas diatas
    Tapi aku ingin sedikit bercerita sekaligus bertanya sama Mas…. Semoga Mas sudi membaca dan memahami cerita aku ini, pun seandainya pertanyaan aku ga dijawab juga ga apa… He3

    Jadi gini Mas,,,
    Tempo hari aku sedang jalan2 dari satu blog ke blog lain’nya
    Hingga akhirnya saya tertuju pada satu artikel blog yang judul beserta isi’nya cukup menarik untuk disimak
    Tapi ” MENARIK ” yang aku maksud disini ialah,,,
    Judul dan isi blog itu SAMA PERSIS DENGAN ARTIKEL YANG MAS POSTING di blog Mas Vpat ini
    Aku bener2 kaget saat itu juga, tak menyangka ada saja orang dengan sifat dan karakter seperti itu
    Lalu aku teringat dengan artikel Mas Vpat yang berjudul ” Gantung Handphone ” dengan segala isi / makna dari artikel itu tadi
    Apakah karna hal tersebut yang menjadikan Mas Vpat berhenti membahas / mengulas tentang ponsel ?!!
    Dan parahnya lagi, diblog yang aku kunjungi itu. Begitu banyak pengunjung yang mengkomplain isi dari setiap artikel yang diposting disana, tanpa digubris dari si’pemilik blog itu sendiri,,, Ckckckckckckckckck

    Perasaanku benar2 miris,,,
    Terlebih setelah tahu bahwa empunya blog itu adalah salah satu ” penghuni ” forum di fb tempat biasa kami berbagi sesama pengguna ege / E63 khusus’nya,,,
    ( aku benar2 prihatin dengan keadaan itu Mas )
    Dan harapanku,,, semoga saja aku tidak menjadi orang picik + licik seperti orang tersebut,,,
    # Ini saja dulu cerita yang bisa aku tuliskan, mungkin lain waktu akan aku tulis lagi mengenai hal yang sama #
    Terima kasih Mas Vpat,,, dan mohon maafku karna banyak bicara…🙂

    • waalaikumsalam, alhamdulillah baik, makasih

      blog manakah gerangan? hehehe…ga papa mas biar aja, tapi yg penting –seperti yg mas awi bilang– kita jgn ikut2 yg kaya’ gitu.

      makasih bgt mas atas perhatiannya🙂

  4. master dapat hadiah nih award katanya, .. ..
    Cek aja langsung, .. ..

    http://firushacker.wordpress.com/2011/02/23/pemenang-award-aku-gak-percaya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: