Perempuan Lembah Larangan

“Sepeninggalku tidak ada bahaya di tengah – tengah manusia yang lebih berbahaya bagi laki – laki daripada bahaya perempuan.”
(HR. Muslim)

Perempuan Lembah Larangan

Dia datang. Perempuan itu. Setiap pekan selalu menggoda hati untuk sekedar menyimak dan menyematkan segenap keindahan yang melekat padanya ke taman hatiku. Di emperan rumah aku mengambil tempat yang paling tepat untuk dapat memandang wajah dan bangunan tubuhnya. Walaupun dia sangat jarang membalas tatapanku tapi ritus pengobat rindu yang hanya berlangsung beberapa menit ini selalu berlangsung dengan indah, bagiku tentunya. Entah bagi dia, mungkin saja malah muak melihat aku yang selalu nongkrong di depan rumah setiap dia lewat.

Memang, semenjak pertama kali melihat perempuan itu, aku tidak bisa menterminasi bayangannya yang lalu lalang di memoriku. Paras elok, tubuh seksi, kulit putih mulus hingga tumitnya seolah berdarah setiap menginjak tanah tapi semua keistimewaan itu tidak menghilangkan kesan sederhana dan keramahan ala orang kampung. Itulah yang membuat aku terpesona pada jumpa pertama. Akupun berharap itu bukan kedatangan pertama dan terakhirnya di kampungku. Namun sayang, perempuan itu menghilang dan tak ada sesiapapun yang dapat aku tanya karena aku memang tak ingin bertanya.

Kini, setelah beberapa bulan berlalu tanpa disangka – sangka, dia, perempuan itu hadir lagi menghiasi jalan di depan rumahku, selalu setiap minggu. Wajahnya semakin jelas. Langkahnya sudah diluar kepala. Tapi aku belum bisa membenturkan senyum pada diri nan [nyaris] sempurna itu. Hanya terpukau dan terpaku.

Di dalam sanubari, aku tak hendak mengubah alur cerita, puas sebagai pengagum sekaligus pecinta yang tak ingin memiliki. Maka aku tak berdaya upaya. Cinta kelelakianku memang sangat mendamba tapi cinta keyakinanku merasa belum berhasrat pada jiwanya. Ya, karena perempuan itu seorang nasrani.

*****

Dua tahun kemudian

*****

“Ayo Skela, makan yang banyak dong. Lihat itu kakak – kakakmu semua pada montok semok.” Aku mencoba membujuk anak babi betina itu agar mau makan lebih banyak. Tampaknya dia menderita sesuatu penyakit tapi entah apa, nafsu makannya benar – benar payah. Diantara anak – anak babi di kandang ini kekurusannya sangat kentara. Itulah sebabnya dia aku panggil Skela.

Semenjak menikah dengan Elisa, perempuan itu, aku mencari nafkah sebagai peternak babi, mengikuti jejak beberapa warga di kampung Elisa yang sekarang jadi kampungku juga. Sebuah pekerjaan yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Bahkan sekadar membayangkan saja aku sudah merasa jijik. Tapi kini aku berada di sini di kandang babi di dunia nyata bukan alam pikiran atau semesta khayali tanpa rasa jijik sedikitpun.

Bermula dari kejadian dua tahun silam ketika tiba – tiba seorang ibu terjatuh lemas di depan rumah saat aku menanti kedatangan dia, perempuan itu. Dengan sigap aku berlari menghampiri dan mengangkat tubuh si ibu. Dari arah punggungku terdengar suara seseorang berlari dan berseru dengan nada suara yang panik.
“Ibuu, ibu aku kenapa?”
“Aku juga nggak tahu, tiba – tiba saja beliau terjatuh.” Tanpa menoleh aku terus membopong si ibu menuju ke bangku panjang di beranda rumah.

Dia mencoba membantu aku memegangi ibunya. Perasaanku berdesir ketika kulit lengannya yang halus dan lembut bersentuhan dengan kulit lenganku. Refleks kepalaku menoleh ke samping ke arah si pemilik kulit yang …. Jantungku serasa mau meledak, wajah yang begitu aku kagumi selama ini begitu dekat dengan wajahku. Hangat napas dan wangi tubuhnya mengiris – iris urat sarafku.

Aku ajak dia, perempuan itu untuk membawa ibunya ke rumah seorang mantri yang tidak jauh dari rumahku. Di sanalah akhirnya kami, aku dan perempuan itu **yang akhirnya aku tahu bernama Elisa**, berkenalan sebagai bagian dari ucapan terima kasihnya atas apa yang telah aku lakukan. Seminggu berikutnya kami sudah saling berbagi senyum dan bertegur sapa. Lalu berbagi nomor ponsel dan berbicara hingga lupa waktu.

*****

Aku baru pulang dari rumah kakak perempuanku, kak Aisyah, yang tinggal di kecamatan bersama suaminya. Kupilih jalan alternatif yang sebenarnya sangat riskan karena merupakan jalan tanah milik perusahaan perkebunan kelapa sawit yang rusak parah dilindas truk dan semakin gawat jika hujan turun. Demi asa bertemu dengan Elisa aku ajak si Satria tua ini menempuh jalan sulit dan berliku. Jalan ini akan melewati kawasan perkebunan orang – orang di kampung Elisa termasuk orang tua Elisa tentunya.

Separo perjalanan, langit tiba – tiba mendung dan angin berhembus kencang, kupacu sepeda motor yang sudah pernah turun mesin ini sekencang mungkin. Aku tahu sesore ini jalan pasti sudah lengang. Mobil – mobil truk pengangkut karyawan dan buah kelapa sawit sudah tidak beroperasi lagi. Sedang orang – orang kampung di hulu dan hilir area ini lebih memilih jalan trans kabupaten yang beraspal meskipun lebih jauh.

Satu dua butir hujan mulai jatuh. Perlahan namun pasti guyurannya semakin merapat. Tanah yang mulai basah, menggeliat memeluk roda. Tinggal beberapa ratus meter lagi aku akan meninggalkan jalan perkebunan kelapa sawit dan akan memasuki tanah milik orang tua Elisa yang dibatasi hutan tipis seluas dua kali lapangan bola. Tapi aku sudah tidak perduli lagi apakah Elisa masih ada atau sudah pulang dari kebunnya, aku hanya berpikir bagaimana agar tidak kemalaman di tengah perjalanan. Tidak ada satupun penerangan di motor ini yang masih bisa menyala. Sedang di depan sana masih terbentang jalan panjang yang diapit hutan belukar.

Sebuah lambaian di depanku membuyarkan konsentrasiku. Diantara jutaan titik – titik hujan aku masih sangat mengenali sosok yang melambaikan tangannya itu. Elisa, ya dia Elisa. Aku menepi dan mematikan motor. Tanpa bertanya itu ini Elisa menarik tanganku mengajak ke pondok di tengah – tengah kebun mereka. Aku menurut saja dan kami berlari berlomba melawan derasnya hujan.

Dalam keadaan sama – sama basah kuyup kami memasuki pondok yang biasa digunakan untuk menjaga kebun dari gangguan babi hutan atau kera.
“Bapak sama ibu mana Lis?” tanyaku melihat tiada sesiapa di sana.
“Sudah pulang kak. Barusan tadi sebelum hujan.”
“Kok kamu nggak ikut pulang?”
“Kan menunggu kak Harun. Tadi kan kakak sms katanya mau pulang lewat sini.”
“O iyaa…aku lupa.” kutepuk jidatku dua kali. “Ma’af ya Lisa membuat kamu harus menunggu dalam suasana yang seperti ini.”
“Jangan merasa bersalah kak, aku nggak keberatan kok. Lagian ini mauku sendiri, kak Harun nggak meminta aku untuk menunggu kan?” jawab Elisa sambil tersenyum manis.

Kami hanya berdua. Membisu dalam perasaan yang sama. Rasa yang membebaskan dari keterikatan juga rasa yang mengikat dari kebebasan. Rasa yang kemudian kami terjemahkan dalam bahasa tubuh yang mestinya tidak kami lakukan. Atau paling tidak akulah yang harus bertahan. Tapi aurat Elisa yang tergambar jelas dari balik t-shirt putihnya yang melekat melekuk tubuh akibat basah meliarkan kultur pejantanku.

Setelah kejadian di kebun itu, aku dan Elisa semakin kerap bertemu, di mana saja asal bisa mengkaji anatomi tubuh masing – masing. Aku semakin jarang membantu ayah dan ibu, bahkan sudah acapkali meninggalkan sholat. Elisapun sudah tidak perduli lagi dengan kuliahnya. Mabuk dan gila dalam asmara. Hingga suatu hari Elisa menelpon aku dengan isak tertahan, dia katakan bahwa dia telah hamil. Blaamp!!!

Elisa meminta aku untuk menikahinya dalam ritual keyakinannya. Perasaan cinta dan sayang yang dibalur nafsu telah lama mengaburkan akalku hingga menerima begitu saja semua permintaan Elisa. Semua yang aku genggam dan gigit erat telah lepas dari simpulnya. Kamipun menikah di gereja di kampung Elisa tanpa sepengetahuan keluargaku dan agar rahasia tetap terjaga aku masih sering tidur di rumah orang tuaku. Sementara Elisa tidak keberatan dan sangat maklum dengan keadaanku.

Tapi apa hendak dikata, tak ada manusia yang pandai menyimpan bangkai, –bahkan Ryan sekalipun– tanpa aku tahu sebelumnya kalau kak Yusuf, kakakku yang nomor dua, punya seorang teman yang sekampung dengan Elisa. Mereka berdua, kak Yusuf dan temannya tersebut sama – sama aktif di sebuah partai politik yang paling berpengaruh di daerahku. Dari temannya itulah semua yang aku sembunyikan terbongkar.

Keluargaku sangat terpukul. Semua ulahku benar – benar diluar dugaan mereka. Sangat sulit untuk dipercaya. Kalau saja kak Yusuf tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang aku lakukan di tempat Elisa pasti takkan ada yang percaya. Ibu, kak Yusuf, kak Aisyah, paman dan bibi bergantian menasihati mencoba untuk menyadarkan aku yang tak bergeming sedikitpun. Sedang ayah hanya diam seribu basa. Ketika aku akan pergi meninggalkan rumah untuk selamanya, ayah akhirnya bersuara, “Nak, ayah ingin kamu seperti Ismail, walau pedang bersilang dileher tak sedikitpun dia berpaling dari wajah Allah. Tapi rupanya kamu lebih memilih jalan Kan’aan, semoga saja masih ada daratan yang belum tenggelam atau masih ada perahu di belakang perahu ayah yang mau kau tumpangi.”

*****

Sebuah mobil Toyota Kijang berhenti tepat di depan kandang babi milikku. Lamunanku ke masa lalu bersama Elisa buyar setelah melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut. Arif, Egi, Ridho, Reza dan Hafidz datang menghampiri aku. Pasti orang rumah yang telah memberitahu mereka tentang keberadaan dan keadaanku. Mereka berlima bukan hanya teman sepermainan sejak kecil tapi juga teman sejihad di pesantren penghafal Qur’an. Hanya dulu ketika kami telah lulus mereka berlima melanjutkan pendidikan ke negeri Yaman sementara aku memutuskan untuk menetap di kampung untuk mengajar di sebuah madrasah yang baru saja didirikan sambil membantu kedua orang tuaku mengelola perkebunan karet.

Mereka berdiri mematung di depanku dengan mata berkaca – kaca.
“Kalian baru pulang dari Yaman ya?” tanyaku mencoba menghangatkan suasana.
“Iya Har, kami datang kemarin. Mampir di rumah guru sebentar dan langsung kemari setelah mendengar semuanya dari kak Yusuf.” jawab Arif. Tak salah dugaanku dan pasti sebelumnya mereka mencoba menghubungi aku.
“Kamu udah ganti nomor ya Har?” tanya Arif kemudian. Lagi, tepat dugaanku.
“Nggak tapi hapenya udah aku jual Rif,” jawabku sambil tersenyum. “Buat tambah modal,” lanjutku malu.
“Bagaimana kabar kamu Har?” suara Egi terdengar lirih.
“Seperti yang kalian dengar dan lihat, seperti inilah keadaanku sekarang.”
“Kamu masih ingat nggak hafalan Al Qur’anmu?” tanya Hafidz ikut bersuara.
“Aku hanya ingat ayat, “Seringkali orang – orang kafir (di akhirat nanti) menginginkan menjadi orang Islam.”

disari dari dua buah kisah nyata.

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 1 Maret 2011, in Cerpen and tagged , . Bookmark the permalink. 43 Komentar.

  1. inti dari cerita ini yaitu umat NASRANI itu Kafir ??
    Hey kawan..didunia ini tak ada Ajaran kafir,apalagi ttng artikel yg menyebutkan NASRANI..
    Tuhan kita gak pernah mengajarkan tentang kejahatan..Tuhan kita mengajarkan tentang bagaimana kita hidup bersama ,rukun .walau kita berbeda keyakinan..
    Saya hanya ingin menyimpulkan..Bahwa NASRANI itu bukan kaum KAFIR/HINA dimata..
    Hey sobat.. Janganlah kita saling menjatuhkan apalagi menghina !!
    Hidup kita hanya sementara didunia ini..kita hanya titipan yang kuasa..dimna Ia menguji bagaimana cara kita hidup didunia ini..
    Salam manis yah dri MANADO🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: