Aku Mau Zina, Please…

Pemuda itu datang untuk meminta rekomendasi zina kepada Rasulullah saw meskipun ia sudah berislam. Sebelumnya dia memang sangat gemar berzina dan ketika memeluk Islam dia merasa berat untuk meninggalkannya. Para sahabat yang kebetulan hadir terbakar emosi dan memarahi pemuda yang dianggap hanya menuruti hawa nafsu belaka. Rasulullah meminta kepada para sahabat untuk membiarkan pemuda itu. Lalu beliau menyuruh pemuda itu untuk mendekat kepada beliau dan setelah ngobrol ringan beliau pun bertanya.

“Wahai pemuda, relakah kamu jika ibumu dizinai?”
Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung menjawab.
“Tidak ya Rasul.”
Rasulullah bertanya lagi.
“Relakah kamu jika saudarimu dizinai?”
“Tidak ya Rasul.”
“Relakah kamu jika putrimu dizinai?”
“Tidak ya Rasul.”
“Relakah kamu jika bibimu (saudari ayahmu) dizinai?”
“Tidak ya Rasul.”
“Relakah kamu jika bibimu (saudari ibumu) dizinai?”
“Tidak ya Rasul.”
Beliaupun tersenyum lantas bersabda,
“Bagaimana orang lain akan rela, padahal
kamu sendiri tidak rela dengan hal itu.”

Beberapa saat pemuda itu terdiam, merenungi apa yang barusan dikatakan Rasulullah dan gejolak lara dihatinya andai saja orang – orang yang ia sayangi dizinai orang. Akhirnya ia pun tersadar dan segera bertaubat meninggalkan zina untuk selamanya.

(kisah di atas bisa dibaca dengan format hadist dalam kitab Musnad – Imam Ahmad [5/256-257], kitab Al Kabir – Imam At-Thabrani [7679] dan dalam kitab Al Silsilah As Shahihah – Al Albani No: 370)

Memberi nasehat yang ‘pas kena hati’ memang bukan hal gampang. Hanya orang – orang yang berhati tulus dan dipenuhi cinta serta memiliki keselarasan antara verbal dan visual-lah yang mampu melakukannya. Di sini kita diajarkan bahwa marah dan hukuman tidak selalu lebih baik untuk meluruskan sebuah kekeliruan. Komunikasi dua arah nan menyentuh hati kerapkali lebih berhasil mengembalikan seseorang ke jalan kebenaran.

Pelajaran lain yang bisa kita ambil dari riwayat di atas yang merupakan esensi dari kisah itu sendiri adalah sikap empati atau timbang rasa. Rasulullah saw tak mencegah niat pemuda itu untuk berzina dengan menakut – nakutinya dengan ancaman hukum syar’i, tidak dengan pedihnya azab kubur, tidak dengan kengerian siksa neraka, pun tidak mengiming – imingi dengan kenikmatan surga. Beliau hanya mencoba menyentuh perasaan kemanusiaan pemuda tersebut agar rasa empati yang sekarat hidup kembali. Dan beliau berhasil.

Empati adalah bagian dari perasaan. Sebuah fitur yang berfungsi untuk menalar, menakar dan membakar emosi pada platform duka. Kesedihan, kesusahan, kegalauan, kegundah-gulanaan dan emosi lainnya yang menyesakkan dada dan mengurai air mata. Ia bekerja secara ajaib, cukup dengan membayangkan sebuah peristiwa yang tak mengenakkan saja (yang sudah atau belum pernah dialami) maka ia akan membentuk emosi sesuai pola emosi yang merasuki rekaan peristiwa tersebut dan mempengaruhi seluruh tatanan perasaan. Kehalusan dan kepekaannya mampu menciptakan reaksi dari aksi – aksi yang abstrak. Apatah lagi jika kemalangan itu benar – benar terjadi, maka tak heran bila ada orang yang meneteskan air mata menyaksikan atau mendengar kemalangan yang menimpa orang lain padahal orang lain tersebut sama sekali tidak ia kenal. Maka dari itu, hidupkan selalu sikap empati dan ajarkan kepada anak – anak kita karena ternyata sikap empati bisa menjadi pencegah perbuatan aniaya terhadap sesama.

Sesungguhnya konfigurasi perasaan setiap insan itu sama, memiliki jenis – jenis emosi yang sama. Berbeda hanya pada cara pengekspresian saja. Sehingga kesamaan dasar itu dapat dijadikan standar ukuran bagi semua orang. Tapi konfigurasi itu bisa saja berubah bilamana nafsu angkara bercokol di sana, maka muncullah “orang – orang berhati sungsang” yang senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 13 Desember 2011, in Islam, Renungan, Terlupakan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. subkhanallah !!!

  2. T.T Allahuakbar, .. ..
    Subbahanallah, … …

    Makasih master sudah mempost ilmu yang sangat berguna, jujur saya ini orang yang bodoh, baru kali ini saya tau kalau ada kejadian seperti itu, dan makasih banget sudah berbagi wawasannya, makasih T.T

    Oh ya numpang nanya itu ”APATAH” itu maksudnya apa ya? .. ..
    Dan ”NAFSU ANGKARA BERCOKOL” itu maksudnya yang bagaimana? .. ..
    T.T Maaf saya cuman bisa bikin repot lagi, maaf, maaf, .. ..

    • makasih bro, ga ngerepotin kok🙂

      ‘apatah’ itu sebenarnya sama dengan ‘apakah’ cuma biasanya digunakan untuk pernyataan bukan pertanyaan dan bila ditambah kata lagi lebih mirip ke ‘apalagi’

      nafsu angkara bercokol mksdnya bila hati/perasaan udah dikendalikan atau terkontaminasi oleh nafsu maka jadi buruklah perasaan yg tercipta

  3. mengingatkan dengan buku: “Tuhan, Ijinkan Aku jadi Pelacur” 🙂

  4. serasa baru pulang dari ceramah agama

    yess dpt ilmu lg heheehe🙂

  5. Hehe, makasih banget atas penjelasannya, ,, ,,
    Sekarang saya kurang lebihnya sudah paham, ,, ,,
    Hehe, makasih mas, ,, ,,

  6. labuberbulu memang jempolan, isinya nggak hanya uwik2 hp tapi juga uwik2 hati.

    Setelah membaca jadi teringat kata2 “sgala sesuatu yang diawali dengan marah, tidak akan berakhir dengan kebaikan.”

    Termasuk golongan orang bijaksana jika mampu melakukan sgalanya tanpa emosi.

    • hehe…bisa aja si putri, tapi emang sih aku nulis ‘ayat2 uwik hati’ kayak gini sebenarnya peringatan utk diyi sendiyi *merendah mode OFF

      Setuju

      Setuju bgt🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: