Menaklukkan Rasa Takut, Me-reka Kenyataan dan Nikmatnya Buah Wanyi

Kakiku gemetar dan jantung terasa semakin kuat menonjok dadaku. Padahal belum seperempat bagian dari pohon wanyi (aku nggak tau apa bahasa latinnya) ini yang berhasil aku panjat. Aku berhenti, menarik napas dalam – dalam dan menimbang dalam keraguan antara takut, sedikit malu dan jangan sampai kemalaman. Terus naik, takut jatuh, jika turun, malu di tertawakan para keponakan dan pasti pekerjaan ini tidak akan kelar hingga sore karena buahnya lumayan banyak sementara aku juga sedang nggak ingin ‘dipaksa’ bermalam di kampung ini karena dirumah ada pekerjaan yang menanti. Di atas sana kakakku menggugah dengan rasa sayangnya, agar aku turun saja. Sempat aku berujar dalam hati, gimana sih ini bukannya diberi semangat malah disuruh turun. Tapi andai aku yang berada di posisinya pasti melakukan hal yang sama.🙂

Pohon yang tumbuh di bantaran Sungai Mahakam ini tidaklah terlalu tinggi, perkiraanku paling cuma 30 meteran dan diameter batang pokoknya ±50an cm, jarak dahan pertama dengan tanah lumayan jauh tapi itu bukan masalah karena pohon ini secara alami ditandem oleh pohon karet yang lebih ramah dan digelayuti akar – akar tarzan yang menjulur hingga ke tanah. Yang membuat aku sangat takut adalah karakteristik kayunya yang patah arang. Begitu patah, gravitasi beraksi dan tanah pun menyambut dengan gembira, amiin. Lho kok malah di amin?

Akhirnya aku memilih jangan sampai kemalaman yang artinya pemanjatan dilanjutkan (tidak ada lebih cepat lebih baik karena aku pasti memilih biar lambat asal nggak telat). Pilihan telah ditentukan dan tekad telah dikuatkan sisanya aku serahkan padamu ya Allah, doaku dalam hati.

Melihat aku mulai beranjak naik, kakakku kembali mengawasi gerak – gerikku, tampaknya dia sangat mengkhawatirkan aku. Sekali waktu dia memberitahu dahan mana yang harus aku jejak saat melihat kesulitanku. Maklumlah dia sudah beberapa kali menaklukkan pohon wanyi ini. Malah hampir setiap kali berbuah. Jadi setiap lekuknya sudah dia pahami. Apalagi dia memang pemanjat paling piawai didalam keluarga besar kami bahkan mungkin di kampung kami atau malah di dunia ini🙂 . Lihatlah *ayo lihat* betapa santainya ia memetik buah dengan galah yang diikatkan jaring kecil di ujungnya dari atas sebuah dahan, berdiri tanpa berpegangan sedikit pun karena kedua tangannya digunakan untuk memegang galah yang cukup berat dan di sana tidak ada ranting untuk sekadar menyandarkan tubuh guna menjaga keseimbangan. Selintas persis seperti orang yang berdiri di atas tanah yang rata. Wow…aku tak akan pernah mampu melakukannya, apalagi dahan yang ia injak tak jauh dari puncak pohon.

Akhirnya walau dengan napas tersengal – sengal, sampai juga dekati puncak dan betapa senang hatiku karena dari ketinggian ini terlihat pemandangan nan indah dibawah sana yang mengelilingi kampung halamanku ini. Tampak Sungai Mahakam yang meliuk indah bak penari Pendet, hutan belukar yang menghijau berseri, ada Jembatan Mahakam 5 (sekarang jadi yang ke 4 pasca runtuhnya Jembatan Tenggarong) meski belum kelar tampak angkuh berbaring di atas Mahakam yang deras. Nun jauh di sana terlihat perkampungan nelayan suku Banjar, Melintang. Sayangnya baik danau (kenohan) Melintang maupun Semayang tidak terlihat dari atas sini. Yang terlihat hanya jembatan penyeberangan di muara danau Semayang. Kini aku benar – benar telah berhasil menguasai diri, sudah tidak gemetaran lagi. Jantung pun berdetak normal kembali.

Jembatan Mahakam 5

Jembatan Mahakam 5 di Kota Bangun (dokumentasi saat ke Tuana Tuha)

48 jam lebih dikit kemudian (kok kayak felem Spongebob ya? hahaha..).

Saat duduk sendirian di beranda rumah selepas maghrib, aku teringat kembali peristiwa itu, rasanya seperti mengenang separuh seluruh perjalanan hidupku. Betapa selalu takutnya aku setiap kali ingin memulai sesuatu yang baru, apalagi sesuatu yang [menurut satuan ukuran kekerdilan jiwa] berskala besar. Hingga aku tak pernah bisa berbuat apa – apa. Bayangan kegagalan dan kenyataan buruk yang bakal menimpa menjadi vampir yang tak mempan matahari. Apalagi bila dibebani pula oleh keraguan. Tapi hari itu aku mendapat pelajaran terbaik bahwa ketakutan – ketakutan tersebut memang harus ada tapi bukan sebagai marka perhentian melainkan hanya marka peringatan agar berhati – hati dalam melangkah dan siap menghadapi kenyataan terburuk. Menyingkirkan keraguan lalu tekad kuat dibarengi usaha dan tawakal merupakan sinergisme dahsyat yang mampu mengantarkan pada kesuksesan dan kenyataan di luar dugaan. Aku pikir itulah makna sabda Rasulullah “Ikatlah dan tawakal-lah”. Bahwa sekedar keinginan tidaklah cukup, meski dipadan dengan tindakan dan tawakal. Dengarkan atau runding mereka (tentunya yang punya kredibilitas) yang telah lebih dulu mencapai kesuksesan tersebut agar langkah menjadi lebih ringan.

Satu hal lagi yang harus aku camkan bahwa kenyataan bukanlah diciptakan dari asumsi atau perencanaan dan kalkulasiku melainkan perencanaan dan perhitungan Allah yang Maha Tahu mana yang terbaik buat hamba – hambaNya. Tiba – tiba entah dari mana datangnya (pura – pura dalam perahu), aku jadi kepengen makan buah wanyi. Tanpa berlama – lama aku langsung ke dapur, humm…baunya yang wangi sangat menggoda selera. Sayang aku nggak bisa berbagi dengan anda sekalian, hahaha.

Posted by Wordmobi

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 7 Januari 2012, in Catatan Perjalanan, Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. pertammax

  2. hmmm amaaaaan….
    Mas vpat kok gk bahas applikasi & modif lg?
    Kalau ada waktu aku minta tlg mas bahas app ini
    http://www.4shared.com/file/Cfd9FC56/J2ME_SDK_Mobile_Pro-.html

    Pengen belajar bikin app sendiri tp gk tau scriptnya.
    Mga aja mas vpat mau kasih contoh script yg simple.

    • mungkin selanjutnya ga akan ada lagi tulisan seputar hape krn memang kondisiku saat ini sangat ga mendukung utk melakukan itu

      waduh aku ga ngerti banget bhs pemograman bro, kl ga salah tool itu utk bikin app java. pernah sih belajar skrip python tp otakku ga mampu jd mundur teratur deh hehehe

  3. hehe ketahuan.. mas vipat motretnya pake hp E63

  4. yoi, fotonya kurang bagus krn ngambilnya dr buritan kapal

  5. enak bacanya om ada sesuatu yg bermanfaat! Hampir aja kebayang suasana n keadaan disana!klo pohon wanyinya hampir kebayang!hehe
    buahnya kyk mana ya,,,#penasaran

    Jembatan Mahakam 5 di Kota Bangun (dokumentasi saat ke Tuana Tuha) mirip dengan jembatan yg ada dikampungku n suasananyapun begitu!
    Fotonya lupa aku jepret!!!

  6. waduuuh!!
    Yaaaaaah…
    Padahal aq sangat menanti2 update blog ini lho.
    Krn dari semua tutor yang ku prnh baca di internet hanya blog inilah yg paling mudah dipahami dan di mengerti tutornya. Semua tutor mas V semua sukses ku praktekan. dan sy sangat berterimakasih sekali sama mas V
    Sy sangat berharap sekali ada lg tutor aplikasi ponsel di blog ini.

  7. benar sekali. Nama nya aja j2me, itu tool untuk membuat file berextensi .java yg nantinya akan di proses menjadi .class dan di proses lg oleh app yg sama menjadi .jar/.jad

  8. mas vpat dulu belajar nulis dimana hayoo?
    Pinter banget merangkai kata2nya.
    Jadi ikut terbawa masuk ke dalam suasana. Hehe..
    Mas vpat melamar jadi penulis di redaksi tabloid atau apa gitu..
    Atau keluarin buku, pasti laris. Hehe..

    • hahaha…belum pantas put melamar jadi penulis, lha wong tulisannya masih level lower newbi gini hehe… emg sih yg paling aku inginkan saat ini adalah jadi penulis, yaah walau belum bisa bikin buku paling tidak bisa membuat tulisan yg baik di blog

      kalau belajar nulis, otodidak aja put, baca2 tulisan orang2 yg bagus lalu dicoba sendiri hehe

  9. wah teringat masa kecil, pohon wanyi punya paman tepat di ats bukit samping rumah. Kalau ada angin kencang buahnya jatuh “gedebuk” ga jauh dari pohonnya. Itu waktu masih kecil. Sekarang pohonnya ga ada lagi, mati kesambar petir. Jadi udah lama banget ga makan buah itu. Ngileeerrr…

    Sebulu Ilir, Kutai Kartanegara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: