Ruh Keindahan

Terdengar teriakan bersahut – sahutan, “Keindahan jatuh gering, Keindahan jatuh gering, Keindahan jatuh gering!!” Sementara yang lain melontarkan pertanyaan yang sama, “Kenapa ia jatuh gering?” Tetapi semuanya menggeleng, semua tak tahu gerangan penyebabnya.

Semenjak itulah semua warna, rasa dan aroma berubah. Hutan tak lagi hijau meski pepohonan rimbun merindang. Air tak lagi bening dan sejuk meski terbit dari bebatuan. Bebauan apapun yang semula wangi menenangkan hati berubah busuk dan basi. Ketakutan dan was – was semakin luas menebar mewabah dimana tempat. Menjangkiti dan meracuni hati dan jiwa siapa saja tanpa kecuali. Tak ada sesuatupun yang sedap dipandangan; tak ada sesuatupun yang merdu dipendengaran dan tak ada sesuatupun yang nyaman diperasaan. Kiamat!!!.

* * * * *

Beberapa waktu sebelumnya

Terdengar teriakan bersahut – sahutan, “Kemarahan telah bebas, Kemarahan telah bebas, Kemarahan telah bebas!!!” Sementara yang lain mempertanyakan hal yang sama, ” Siapa yang telah membebaskannya?” Semuanya menggeleng, semua merasa tak tahu gerangan siapa yang lancang membebaskan Kemarahan.

Sejak itulah semua napas yang terhembus panas membakar, semua mata yang memandang merah membara dan lidah – lidah yang berteriak setajam pedang. Daulah Sabar yang tiada sempadan mampat nyaris tanpa senjang. Uang kertas seribu perak pun harus bertaruh nyawa setiap melewatinya. Sementara jiwa – jiwa yang pekat hitam membelam dijerat tali kekang digenggaman tangan Kemarahan yang mengendalikan laksana anak – anak memperlakukan mainan mereka.

Dengan tangan – tangan merekalah, Kemarahan membunuh siapa saja yang coba mengusiknya. Senyum, Sopan santun dan Kebijaksanaan dipenjara dan didera siksa tiada tara. Mungkin mereka tinggal berbilang menit menuju kerajaan kematian. Sedang Tabayyun dipastikan sudah dipancung dan jasadnya dibuang ke belukar antah berantah. Secuil potongan tubuhnya ditemukan di selokan rumah jagal.

* * * * *

Di peraduannya, Keindahan terbaring tak berdaya. Dikitari para tabib yang terus berupaya agar penderitaannya yang semakin lama semakin berat bisa berangsur sembuh. Dari balik matanya yang terpejam mengalir tetesan air mata, pertanda kesedihan atau kesakitan yang terpendam. Tiba – tiba terdengar suara erangan kecil. Para tabib dan orang – orang yang peduli semakin merapat, berharap ada sesuatu yang dikatakan Keindahan karena sejak jatuh sakit ia diam seribu bahasa.

Perlahan kedua mata Keindahan terbuka dan menatap sekeliling. Sejurus kemudian apa yang diharapkan mereka yang hadir terkabul. Keindahan mulai berbicara.

“Tak lama lagi aku akan mati.” Semua terkejut, tak menyangka kata – kata yang dinanti justru kabar yang tak enak didengar. “Sakitku semakin parah dan sangat sulit untuk disembuhkan. Karena semakin banyak yang tak peduli dengan ruhku.”

Mereka yang hadir saling pandang satu sama lain, tak mengerti dengan ucapan Keindahan. Sebelum sempat mereka bertanya, Keindahan melanjutkan seolah mengerti kebingungan mereka.

“Sebagaimana kalian, aku juga dianugerahi ruh oleh Tuhan. Hanya saja jika ruh kalian ada di tangan Tuhan maka ruhku ada digenggaman kalian, manusia. Hidup dan matiku kalianlah yang menentukan.” Sekali lagi mereka yang hadir saling pandang antara mengerti dan tambah bingung.

“Dulu aku hidup damai bersama leluhur kalian. Mereka memelihara, merawat dan melestarikan ruhku dengan sangat baik sehingga aku tumbuh semakin besar bukan hanya melingkupi seluruh tanah air tempat hidup mereka namun juga meliputi ragawi mereka. Orang – orang luarpun merasa senang dan memuja – muji paduan keelokan yang sempurna itu. Tetapi kini semua berubah, kalian sudah tak peduli dengan ruhku. Hati kalian dipenuhi belatung – belatung angkara murka. Tangan kalian dikotori oleh najis kekerasan. Dan lidah kalian hanya pandai melontarkan petir caci – maki dan kata – kata kasar.” Mereka, semua yang hadir terdiam menunduk.

Melihat Keindahan diam agak lama, salah seorang tabib beranikan diri bertanya, “Jika hidup mati anda ada di tangan kami, maka apa yang harus kami lakukan agar anda bisa tetap hidup?”

“Jaga dan lestarikan ruhku dengan sifat sabar, tidak lekas marah dan bijaksana dalam menghadapi setiap masalah. Sopan santun terhadap siapa saja dalam sikap dan ucapan. Itu sudah cukup.” jawab Keindahan.

“Jika tak keberatan sudilah kiranya anda mengatakan kepada kami apakah ruh anda itu?” seseorang dibarisan belakang tak bisa menahan penasarannya.

“Ruhku adalah kelembutan.”

Semua kembali saling pandang namun kini mereka telah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh diluar dugaan, jika merekalah penyebab gering Keindahan.

“Ketahuilah, sesungguhnya kalian adalah jiwa dari tanah air, bila jiwa kalian rusak maka rusak pulalah tanah air ini. Sebagaimana kelembutan yang menjadi ruhku. Bila ruh itu telah pergi, masih adakah keindahan?”

“Sesungguhnya tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali ia pasti menghiasinya dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu kecuali ia memperburuknya.” (HR Muslim)

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 24 September 2012, in Cermin, Fiksi, Prosa, Renungan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. bang vpaaaaaaaaat…….
    kemana aja baaaaang.. kangen
    akhirnya abang menampakkan diri
    bang gimana kabarnya ??? kangen nih
    balas di mail ya bang

  2. Hafidz Arrantawi

    behh…
    Mantap,Mantap,Mantap..
    tulisannya bgus..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: