Bianglala Kehidupan

Bianglala KehidupanBeginilah hidup, terus bergerak maju mengikuti sang waktu menyeret kaki – kaki tuanya mengantar setiap napas dari negeri rahim menuju titik akhir sejarah di lembah bermaut. Hidup menawarkan banyak pilihan. Banyak imbalan. Setiap jiwa berhak menentukan pilihan atas koridor mana yang akan dilaluinya dan siap menanggung baik atau buruk resikonya.

Aku melihat bayi perempuan mungil tak berdaya di pembaringan lembutnya. Samudera di matanya tampak tenang, tanpa ombak, tanpa buih, tanpa karang, tanpa nelayan. Aku mencoba membuatnya tertawa lalu aku tersentak dan iba, “Kelak kau akan menghadapi kehidupan yang lebih berat dari apa yang kami rasakan sekarang.” Tangan dan kakinya bergerak – gerak seolah hendak menggapai dan melangkah, “Biarkan aku mencoba menjalani.” Sambil tersenyum aku katakan, “Kau akan kuat, karena orang tuamu akan membuatmu begitu.”

Aku melihat seorang anak yang baru saja melanjutkan pendidikannya ke SMP, wajahnya tampak lelah siang itu. Padahal kemarin aku melihat lukisan di wajahnya penuh gurat kegembiraan dan kesukariaan. Rupanya kehidupan mulai membawanya pada jalan yang menanjak. Dan matahari mulai mendekati kepalanya, “Teruslah berjalan, reguk air jernih samudera ilmu dan biarkan kehidupan mempersiapkan dirimu menggapai impian setinggi langit.”

Aku melihat seorang pemuda yang tak lama lagi akan menjadi seorang ayah. Dia telah lama meninggalkan bangku hiruk pikuk forum pengkhayal. Menghilang dari tepi jalan. Menepi dari kancah kusut perseteruan. Dan mulai menyelam mencari dasar. Membangun tekad menegakkan langit. Cita – cita tiga kepala [dan entah berapa lagi kelak] dia genggam sendiri. Tapi cinta membuatnya kuat untuk terus berpikir dan bekerja.

Aku melihat seorang kakek berjalan menuntun sepeda tuanya. Di boncengan ada setumpuk kayu bakar yang ia ambil dari atas bukit di belakang kampung. Wajah keriputnya melukiskan letih yang terbalut kesabaran atau mungkin keterpaksaan, entahlah. Kaki dan tangannya tampak gemetar menahan beban ketika harus berjalan menurun. Sang pendamping hidup telah lama tiada. Sementara anak semata wayangnya belum pandai membalas. Hidup sebatang kara menunda rentanya berhenti berjuang.

Aku melihat seorang ibu mendorong sebuah gerobak yang menyisakan beberapa ikat sayuran. Jalan menanjak membuatnya harus mendorong lebih kuat untuk mencapai jalan yang datar di atasnya di mana ia bisa mengaso sebelum pulang menuju rumahnya. Walau sudah berjalan sekeliling kampung menjajakan sayur mayur segar, namun entah di mana ia menyembunyikan lelahnya. Senyum masih kerap menghias bibir dan sesekali ia mentertawakan dirinya sendiri bila gagal menaiki tanjakan itu.

Begitulah hidup, dengan ribuan wajahnya mengikuti sang takdir menampilkan kisah – kisah setiap napas. Wahai jiwa yang lamun, adakah pelajaran yang kau ambil?

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 13 November 2012, in Catatan Perjalanan, Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. tentu ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: