Seutas Tali Menuju Langit

Sang tetua komat – kamit membaca mantera. Semenit, dua menit, tiga menit, empat menit, lima menit, tiba – tiba terdengar suara yang sangat keras di angkasa raya. Semua kepala yang hadir dongak menatap langit. Nun jauh di atas sana terlihat pemandangan yang tak lumrah. Langit terbelah. Semua terpaku. Tak ada yang bertanya, gerangan apa yang terjadi. Hati mereka dipenuhi rasa ngeri tak terperi. Bukan ngeri langit runtuh. Ngeri bumi hancur luluh.

Sang tetua tak beringsut dari tempatnya
berdiri di puncak bukit Penyerahan, satu – satunya tempat yang masih tersisa di hamparan negeri setelah gempa dahsyat dan tsunami memporak – porandakan seluruh daratan. Sama seperti mereka, sang tetua pun menatap langit, berharap penuh pada penguasa alam. Meski ia tak lagi bermantera, sanubarinya tak pernah berhenti berteriak, sayangi mereka Tuhan, sayangi mereka Tuhan.

Seulas senyum tergurat di bibirnya, pertanda pertolongan telah tiba. Benar, tampak sesuatu terjulur dari langit menuju ke arah bumi di mana mereka berada kini. Di bukit Penyerahan. Sang tetua memalingkan pandangannya pada semua yang hadir, menarik sehirup napas dan lantas berkata lantang.

“Saudara – saudaraku, pertolongan telah datang, tinggalkan semua bekal yang kalian bawa, ikhlaskan semua yang hilang dan yang tertinggal, punahkan segala kebencian dan amarah, leraikan gejolak nafsu dan keinginan, semua itu hanya akan memberatkan perjalanan kalian mendaki langit, tempat dimana semua yang terampas dan tak tergapai di sini bisa kalian dapatkan.”

Wajah – wajah rembulan siang itu perlahan berubah berseri dan penuh semangat karena tanah harapan menjanjikan kemakmuran. Mereka teramat percaya pada sang tetua sebab apa yang beliau kata selalu benar adanya. Mereka pun dapat merasakan betapa kasih sayangnya sang tetua pada mereka. Ia lebih pantas jadi raja mereka daripada raja sekarang yang tak pernah peduli dengan derita bertambah – tambah yang mereka alami. Itulah mengapa mereka lebih mendengar dan lebih taat pada sang tetua daripada raja mereka sendiri. Sang tetua pulalah yang mengajak mereka menyelamatkan jiwa ke tempat ini dan naik ke langit. Meski sulit dipercaya tapi karena sang tetua yang bicara mereka pun tak banyak tanya.

Benda yang menjulur dari langit semakin dekat, semakin nampak dan semakin jelas. Hanya sebuah tali seukuran jari kelingking kanak – kanak. Semua saling pandang seolah hendak bertanya, mampukah tali sekecil itu membawa mereka yang banyak ke langit? Lalu pandangan mereka tertuju pada satu arah, sang tetua. Mereka puas mendapatkan jawab, air muka sang tetua tak berubah. Optimis.

Tiba – tiba terjadi keributan, beberapa orang berbadan tambun menerobos barisan terdepan. Mengetahui siapa – siapa si biang keributan, semua menjadi kalap dan hampir amuk terjadi andai saja sang tetua tak segera turun tangan menenangkan. Meski belum sepenuhnya tenang.

“Baginda, kami senang baginda berada di sini tapi…” belum selesai sang tetua bicara salah seorang yang hadir menyela garang,

“Tetua, negeri kita telah hancur, dia bukan raja kita lagi jadi tidak usah dipanggil dengan sebutan baginda, lagipula dialah penyebab semua kehancuran ini.”

“Benar, benar.” riuh, hampir semua hadirin mengiyakan.

Raja gusar dituduh biang keladi kehancuran negeri,

“Kalian jangan asal menuduh. Kami telah dibohongi oleh tetua. Dia katakan kepada kami dengan melakukan upacara pengorbanan maka kehancuran ini dapat dihindari, tapi apa yang terjadi setelah kami melaksanakan apa yang ia ucapkan malapetaka tetap saja menimpa negeri.”

“Iya benar, tetua kalian ini telah memperdayai kami. Rupanya ia hendak menikmati harta jerih payah kami dengan dalih upacara pengorbanan. Dan ia jadi marah karena keinginannya tak tercapai, kami hanya mengorbankan barang – barang yang tak berharga seperti yang ia inginkan lalu dengan sihirnya ia datangkan malapetaka ini.” ceplos Permaisuri menguatkan tuduhan suaminya.

“Apa gunanya saya memperdaya kalian dan saya tidak punya sihir yang bisa mendatangkan marabahaya. Kalian melihat sendiri saya ikut merasakan bencana ini. Saya telah mengatakan yang sebenarnya, hanya kalian saja yang tidak melaksanakan dengan sebenar – benarnya.” sang tetua tetap tenang tak terpancing oleh tuduhan raja dan permaisurinya.

“Bukankah sejak tiga purnama sebelum ini, saya sudah memperingatkan tuan raja untuk segera memperbaiki semua ketimpangan yang sudah demikian parah dan kasat mata di negeri ini. Korupsi, kolusi, nepotisme, suap, kekerasan, pembunuhan, kecurangan, pembohongan dan pembodohan menjadi darah daging dan urat nadi negeri ini. Tapi tuanku raja selalu sibuk dengan segala tetek bengek pribadi yang tak berarti. Dan ketika tiga hari lalu saya meminta kepada tuanku raja dan ratu untuk melakukan upacara pengorbanan dengan mengorbankan apa yang paling dicintai, tuanku raja dan ratu justru berkorban dengan hal yang remeh temeh. Maka jangan salahkan penguasa alam jika Ia menganggap kita juga makhluk remeh temeh.” sang tetua diam beberapa jenak. “Tapi sudahlah, semua sudah terjadi, lebih baik sekarang kita bergegas menuju langit sebelum tempat terakhir ini pun luluh lantak.”

Satu persatu rakyat negeri bergiliran memanjat tali menuju langit. Ajaibnya, begitu tali dipegang tubuh terasa ringan melayang hingga mereka bisa melesat laju secepat kilat mengangkasa meninggalkan bumi.

Namun keajaiban terhenti manakala tiba giliran raja dan kroni – kroninya hendak menuju langit. Mereka tak dapat melayang ringan seperti rakyat kebanyakan. Mereka harus berjuang gigih dan tersiksa pula oleh tali yang begitu kecil mencekik kulit halus tangan mereka.

“Tinggalkanlah beban kalian. Perhiasan, uang, emas dan permata yang kalian bawa hanya akan mencelakakan kalian.” sang tetua mengingatkan mereka.

“Mana mungkin aku meninggalkan semua perhiasanku yang mahal dan indah ini, tetua.” sahut ratu sambil terus mencoba mengangkat tubuhnya dengan menggenggam erat dan bergelayut pada tali dari langit itu. Tapi sekeras apapun ia berusaha dan berteriak kesakitan pada akhirnya ia terjatuh lagi ke tanah. Ia memandangi semua kemewahan yang melekat di tubuhnya, sungguh teramat berat rasanya untuk menanggalkan dan meninggalkannya begitu saja. Kemewahan yang bertumbal kesengsaraan ribuan nyawa rakyat yang tak pernah ia pedulikan.

“Selama kalian masih membiarkan diri kalian kotor oleh ketamakan, tak akan dapat kalian capai pintu langit. Lakukanlah pengorbanan ini sebagai pengorbanan terakhir kalian, akan ada ganti yang lebih baik menanti di atas sana andai kalian mau melakukannya.” dengan sabar sang tetua menasihati raja dan para kroninya yang enggan melepas semua kemewahan yang berhasil mereka selamatkan dari bencana.

Bukannya sadar, mereka justru menawarkan ide gila kepada sang tetua.

“Begini tetua…” raja menarik napas. “Kami akan meninggalkan semua harta benda kami kepada tetua, nanti tetua yang membawakannya ke langit untuk kami dan tentu saja akan ada imbalan yang pantas untuk jerih payah tetua. Bagaimana tetua? Mau kan?”

Sang tetua geleng – geleng kepala, “Kalian pikir aku ini siapa, mampu membawa semua harta benda kalian yang begitu banyak.”

“Tetua kan orang suci yang dekat dengan penguasa alam, tetua pasti bisa membawa semuanya dengan mudah.” bujuk raja.

“Mungkin aku orang suci seperti sangkaan kalian dan mudah – mudahan aku bisa dekat dengan penguasa alam tapi bagaimana dengan harta kalian, apakah semua ini kalian dapat dengan cara yang suci? Lihatlah sekeliling kalian, kehancuran semakin dekat, tak lama lagi tempat inipun akan tenggelam. Sekarang terserah kepada kalian, mau tetap hidup dengan mematuhi aturan penguasa alam dan berakhir bahagia atau terkubur bersama harta yang kalian cintai dengan akhir sengara. Aku sudah memperingatkan dan hanya itu tugasku.” sang tetua langsung menuju tali dan siap untuk memanjat.

“Tetua, tetua, tunggu kami tetua!!” teriak raja dan kroninya panik.

“Cepat buat keputusan sebelum tali ini ditarik kembali ke langit.” hanya itu yang dikatakan sang tetua, tanpa memperdulikan kepanikan mereka terus melaju ke langit.

Kepanikan semakin gila tatkala sang tetua benar – benar telah sirna dari pandangan dan tali perlahan – lahan mulai terangkat. Dari arah langit terdengar suara khas sang tetua yang lembut, “Bersegeralah menuju kemenangan.” Sementara itu getar – getar halus mulai terasa mengguncang bukit Penyerahan. Tanpa pikir panjang mereka langsung meninggalkan dan melucuti semua harta benda dan perhiasan yang coba mereka bawa. Lalu berlomba – lomba mengambil tali. Semua ingin paling duluan, semua tak ingin celaka. Sirnalah semangat kekronian yang selama ini mereka bangga – banggakan, masing – masing jiwa hanya peduli pada dirinya sendiri. Tak ada lagi raja, tak ada lagi ratu, tak ada lagi pangeran, tak ada lagi puteri, tak ada lagi perdana menteri, tak ada lagi menteri, tak ada lagi panglima, tak ada lagi politikus yang doyan menjilat, tak ada lagi pengusaha yang membeli hukum, semua sama, hanya orang – orang celaka di ambang gerbang kematian.

* * *

Wajah – wajah bulan purnama itu asyik bersenda gurau diantara kilau bintang gemintang. Mereka melalui masa dengan kesenangan demi kesenangan. Penderitaan telah berganti. Tirani hanya tinggal cerita pengantar tidur anak – anak mereka. Hmm… apakah tuan dan puan menyangka mereka telah berada di surga? Mereka masih hidup di bumi dimana langitnya menjulurkan ribuan tali yang bisa mereka panjat kapan saja untuk memetik bintang – bintang kebahagian.

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 30 November 2012, in Cerpen, Fiksi and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. lanjut kang !!!!!

  2. Menuju Langit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: