Pemain Ulung

Ia adalah pemain ulung, seperti itulah yang aku ketahui kelak. Suatu hari ia datang mengajakku bermain. Ia datang dari arah depanku. Ia datang saat tak ada sesiapapun di sampingku. Aku belum tahu siapa ia, permainannya apa dan kapan permainan berakhir. Aku menurut saja tanpa banyak tanya, aku belum tahu apa – apa. Aku terlalu muda untuk tahu apa – apa. Aku terlalu muda, masih senang dengan permainan apa saja.

Aku dan ia bermain, sampai sangat lama. Lama, sangat lama. Namun aku dan ia tak peduli waktu. Matahari entah bertahta di terang mana. Purnama entah beradu di gelap mana. Ia dan aku terus bermain. Tak sejenak pun ia membiarkan aku tuk menghela napas. Aku tumbuh tinggi bersama ia dalam permainan yang tak pernah kuketahui kesesudahannya.

Aku selalu memenangkan permainan. Aku memang pintar. Dan ia menyebut aku pemain ulung. Pemain yang tak terkalahkan. Sementara ia selalu memaki – maki dirinya sendiri. Yang ia sebut sebagai pecundang. Aku semakin bersemangat.

Tahukah kalian permainan kami sebenarnya permainan rahasia. Ia sangat merahasiakannya. Dan ia mengajariku bagaimana merahasiakannya. Nyaris tak ada orang yang tahu. Kalaupun ada yang curiga mereka pada akhirnya tak percaya atau melupakan begitu saja. Kami terus bermain. Dalam terang yang terselubung. Dalam gelap yang mengepung.

Tiba saatnya aku tahu. Ketika permainan itu meremukkan tulang belulangku. Kusut membelit urat – urat sarafku. Aku cacat dengan raga sempurna.

Permainan kami permainan kebalikan. Apa yang nampak adalah abstrak. Apa yang nyata hanyalah fatamorgana. Apa yang terkatakan adalah kepuraan. Aku adalah pecundang bukan pemenang. Kami bermain di tepi jurang bukan di tengah taman.

Ia adalah pemain ulung, seperti itulah yang kalian juga ketahui kini. Suatu hari ia akan mengajak kalian bermain. Ia datang dari segala arah. Kecuali atas. Ingatlah ia adalah pemain ulung. Bermain ribuan tahun. Maka siapa yang mampu mengalahkannya? Jangan ikuti permainnya kalian akan kalah. Kenalilah permainannya kalian akan menang. Pergilah keatas, jalan yang tak dapat ia tempuh. Sekerap yang kalian bisa.

Ia adalah pemain ulung tetapi bukan pemain tangguh. Ia rapuh karena tak lebih dari perias. Merias yang baik menjadi buruk. Merias yang buruk menjadi baik. Tak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Tak ada penolong yang melindunginya selain riasannya yang semu. Maka lihatlah ia dan riasannya dalam cermin hakikat

About eLki

sebutir debu di atas puing cahaya

Posted on 18 Desember 2012, in Catatan Perjalanan, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: