Jatuh Cinta Lalu Mati

Jatuh Cinta Lalu Mati

Tanah berumput lembut
Kirana. Jiwaku duduk berdiang
Melepas jumud dan kusut
Celaka. Hatiku enggan tuk tenang

Intim. Malam limabelas
Wajah itu semakin jelas
Kinasih. Cintaku terhempas
Khianat kejam merampas

Nafsu. Menggumam hentak – hentak
Menindas jantungku berontak
Cahaya. Lumpuh sebelum hari sepuluh
Aku hanya mampu mengeluh

Aku ingin seperti mereka
Ajaib. Lelaki itu kuat tiada tara
Meski titah cinta seberat buana
Asa. Pundak bergetar jiwa bahagia

Ia merasa teramat indah
Gila. Dalam bahagia transendental
Ia sudah tidak di tanah
Raja. Daulat cinta kekal nan sakral

Egois. Sungguh aku belum bernyali
Jatuh cinta lalu mati
Hedonis. Sungguh aku belum terkendali
Jatuh bangun takluk syahwati

(Kita bukan petualang cinta.
Satu cinta untuk seribu. Fana
Kita adalah pejuang cinta.
Seribu cinta untuk satu. Baka)

Rumi*. Jalan para nabi adalah jalan cinta
Kita adalah anak – anak cinta
Dan cinta adalah ibu kita

*Syeikh Jalaluddin Rumi

Iklan

Pemberontakan Wayang

Rama vs Rahwana

(image credit: sfgatedotcom)

Gagal mendapatkan Sinta melalui mekanisme kekerasan, Rahwana pun kembali memutar otak untuk menemukan strategi tepat merebut hati Sinta dan memenangkan persaingannya dengan Rama. Ingin

Bianglala Kehidupan

Bianglala KehidupanBeginilah hidup, terus bergerak maju mengikuti sang waktu menyeret kaki – kaki tuanya mengantar setiap napas dari negeri rahim menuju titik akhir sejarah di lembah bermaut. Hidup menawarkan banyak pilihan. Banyak imbalan. Setiap jiwa berhak menentukan pilihan atas koridor mana yang akan dilaluinya dan siap menanggung baik atau buruk resikonya.

Aku melihat bayi…

Ruh Keindahan

Terdengar teriakan bersahut – sahutan, “Keindahan jatuh gering, Keindahan jatuh gering, Keindahan jatuh gering!!” Sementara yang lain melontarkan pertanyaan yang sama, “Kenapa ia jatuh gering?” Tetapi semuanya menggeleng, semua tak tahu gerangan penyebabnya.

Semenjak itulah

Memahami Dan Menjaga “Perasaan” Allah

Pencinta yang memahami perasaan kekasihnya akan tahu bagaimana caranya memperlakukan kekasihnya itu, sehingga terjalin hubungan yang harmonis diantara keduanya. Begitu pula hubungan hamba dan Tuhannya, akan terajut hubungan romantis jika si hamba bisa memahami “perasaan” Tuhannya.

Bahwa Allah

%d blogger menyukai ini: